Assalamju Alaikum...
Mohon maaf sebelumnya jika tulisan ini banyak kekurangannya
Mohon maaf sebelumnya jika tulisan ini banyak kekurangannya
dan mohon saran plus perbaikannya
Kali ini saya mau share artikel singkat dalam menyikapi Pendidikan Berbasis Karakter utamanya dalam bidang PAI
Semoga bermanfaat ya...
Trimkasih...
Semoga bermanfaat ya...
Trimkasih...
ANALISIS dan PERENCANAAN PEMBELAJARAN
PAI DALAM PENDIDIKAN KARAKTER
A. Latar Belakang
Persoalan budaya dan karakter bangsa kini
menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai berbagai aspek
kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dialog,
dan gelar wicara di media elektronik. Selain di media massa, para pemuka
masyarakat, para ahli, dan para pengamat pendidikan, dan pengamat sosial
berbicara mengenai persoalan budaya dan karakter bangsa di berbagai forum
seminar, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Persoalan
yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual,
perusakan, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupn
politik yang tidak produktif, dan sebagainya menjadi topik pembahasan hangat di
media massa, seminar, dan di berbagai kesempatan. Berbagai alternatif
penyelesaian diajukan seperti peraturan, undang-undang, peningkatan upaya
pelaksanaan dan penerapan hukum yang lebih kuat.
Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk
mengatasi, paling tidak mengurangi, masalah budaya dan karakter bangsa yang
dibicarakan itu adalah pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang
bersifat preventif karena pendidikan
membangun generasi baru bangsa yang lebih baik.
Kurikulum adalah jantungnya pendidikan
(curriculum is the heart of education). Oleh karena itu, sudah seharusnya
kurikulum, saat ini, memberikan perhatian yang lebih besar pada pendidikan
budaya dan karakter bangsa dibandingkan kurikulum masa sebelumnya. Pendapat
yang dikemukakan para pemuka masyarakat, ahli pendidikan, para pemerhati
pendidikan dan anggota masyarakat lainnya di berbagai media massa, seminar, dan
sarasehan yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional pada awal tahun
2010 menggambarkan adanya kebutuhan masyarakat yang kuat akan pendidikan budaya
dan karakter bangsa. Apalagi jika dikaji,
bahwa kebutuhan itu, secara imperatif, adalah sebagai kualitas manusia
Indonesia yang dirumuskan dalam Tujuan Pendidikan Nasional.
Sebagai gambaran, penelitian di Harvard
University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan
seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis
(hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain
(soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar
20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan
orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung
kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu
pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku
manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama
manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,
perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata
krama, budaya, dan adat istiadat.
Pendidikan agama Islam di sekolah merupakan
system pembelajaran yang selalu berkaitan dengan nilai-nilai moral keagamaan.
Bila kurikulum sebagai heart of education,
maka pendidikan Agama Islam sebagai bagian dari kurikulum pendidikan
menjadi is the heart of character in curriculum. Karena pendidikan agama Islam
merupakan mata pelajaran dimana isinya(conten of matter) memuat berbagai
karakter positif sesuai dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Bahkan
tentu akan mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional. Selain itu
pendidikan agama Islam lebih menekankan kepada soft skill sebagai pengendali
dan control terhadap hard skill seseorang.
Munculnya gagasan dan kebijakan pendidikan
berkarakter yang konsepnya tertuang dalam kurikulum pendidikan termasuk pada
mata pelajaran pendidikan Islam disisi lain mengandung persefsi bahwa karakter
yang ada pada conten of matter pendidikan Agama Islam belum mampu membangun
manusia-manusia berkarakter yang di dalamnya adalah karakter religi. Hal ini
menunjukan perlu adanya pengkajian bahwa pembelajaran tentang karakter belum
tentu mampu menjadikan manusia yang berkarakter.
Asumsi tersebut menjadi dasar bahwa pendidikan
agama Islam sebagai mata pelajaran, juga harus bekarakter. Dari sini disusunlah
silabus dan rpp PAI berkarakter. Dikaji melalui pendekatan filosofis
menggambarkan bahwa akar maslahnya adalah bagaimana mengeksplorasi setiap mata
pelajaran agar mampu menginternalisasikan karakter-karakter dalam setiap mata
pelajaran agar tertanam dan mampu diaplikasikan para siswa dalam kehidupannya.
Kebijakan ini juga sekaligus memiliki asumsi
bahwa selama ini Pendidikan Agama Islam belum berkarakter. Padahal hampir semua
materi dalam pendidikan Islam mengandung nilai-nilai karakter pokok bagi
kehidupan indivu dan social. Dengan demikian masalahnya adalah bagaimana
mengimplementasikan nilai-nilai karakter yang terdapat dalam Pendidikan Agama
Islam dalam kehidupan sehari-hari melalui proses pembelajaran siswa.
B. PENGERTIAN
PERENCANAAN PENGAJARAN
1.
Menurut Ulbert
Silalahi:
Perencanaan merupakan kegiatan menetapkan
tujuan serta merumuskan dan mengatur pendayagunaan manusia, informasi,
finansial, metode dan waktu untuk memaksimalisasikan efisiensi dan efektivitas
pencapaian tujuan.
2.
Menurut William
H. Newman dalam Abdul Majid:
Perencanaan adalah menentukan apa yang akan
dilakukan. Perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan
penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program,
penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan
berdasarkan jadwal sehari-hari.
3.
Menurut Bintoro
Tjokroamidjodjo:
a.
Perencanaan dalam
arti luas : suatu proses mempersiapkan secara sistematis kegiatan-kegiatan yang
akan dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
b.
Perencanaan :
suatu cara bagaimana mencapai tujuan sebaik-baiknya dengan sumber-sumber yang
ada supaya efisien dan efektif.
c.
Perencanaan : penentuan
tujuan yang akan dicapai atau yang akan dilakukan, bagaimana, bilamana dan oleh
siapa.
4.
Menurut Lembaga
Administrasi Negara:
a. Perencanaan dalam arti luas: Suatu proses
mempersiapkan secara sistematis kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk
mencapai suatu tujuan tertentu.
b. Perencanaan: Proses penentuan tujuan,
penentuan kegiatan dan penentuan aparat pelaksana kegiatan untuk mencapai
tujuan.
c. Perencanaan: Usaha yang diorganisasikan dengan
dasar perhitungan untuk memajukan perkembangan tertentu.
5.
Menurut Abdul
Majid:
Dalam konteks pengajaran, perencanaan dapat
diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media
pengajaran, penggunaan pendekatan dan metode pengajaran dan penilaian dalam
suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan.
Dari pengertian-pengertian diatas maka yang di
maksud dengan Perencanaan Pengajaran
adalah suatu proses yang sistematis dilakukan oleh guru dalam
membimbing, membantu dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman
belajar serta mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan dengan
langkah-langkah penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pengajaran,
penggunaan pendekatan dan metode pengajaran dan penilaian dalam suatu alokasi
waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu.
C. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Mengkaji Pendidikan Agama Islam dengan
pendidikan karakter secra filosofis memiliki pengertian mendudukan secara
essensial keterkaitan antara pendidikan Agama Isla m dengan Pendidikan
karakter. Maka kajian ini akan lebih sistematis bila pembahsan dimulai dari
pembahasan pendidikan agama islam dan pendidikan karakter secra ontologis.
Menurut Ahmad Tafsir (1992: 32) Pendidikan
Agama Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain
agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam”. Sedangkan Prof.
Dr. Zakiah Darajat (1998:15), Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa
bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai
pendidikannya, dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta
menjadikannya sebgai pandangan hidup (way of life).Pendidikan Agama Islam
adalah pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan ajaran Islam.Pendidikan Agama
Islam adalah pendidikan melalui ajaran-ajaran agama Islam yaitu berupa
bimbingan dan asuhan terhadap anak didik, agar nantinya setelah selesai dari
pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan engamalkan ajaran-ajaran agama
Islam yang telah diyaikininya secara menyeluruh, serta menjadikannya demi keselamatan
hidup di dunia maupun kelak diakhirat.
Dua kutipan pendapat di atas mengartikan
pendidikan agama Islam sebagai proses pembentukan karakter manusia agar
menjalankan ajaran Islam secra kaffah. Untuk mencapai itu tentunya memrlukan
materi sebagai bahan yang mampu mengantarkan siswanya menjadi muslim yang
kaffah. Inilah yang disebut dengan content of matter, pendidikan Agama Islam
yang merupakan suatu konsep yang berisi mata pelajaran dan kegiatan mengajar untuk
mencapai tujuan pendidikan.
Materi ini meliputi empat dasar pokok yaitu:
1.
Hubungan manusia
dengan Allah SWT
2.
Hubungan manusia
dengan dirinya sendiri
3.
Hubungan manusia
dengan sesama manusia dan
4.
Hubungan manusia
dengan makhluk lain dan alam lingkungan.
Empat pokok materi PAI tersebut dituangkan
dalam kompetensi ; Alquran, Aqidah, Ibadah, akhlak, dan sejarah.
Melihat konten materi dan proses, pendidikan
agama Islam mengandung berbagai nilai-nilai moral universal yang menjadi dasar
tumbuhnya karakter positif pada sesorang.
D. Pengertian Karakter
Karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah
“bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat,
tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian,
berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh
(UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku
(behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter
berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan
bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah
laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya
dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai
dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
E. Pendidikan Agama Islam dan Pendidkan Karater
1.
Tujuan Pendidikan
Agama Islam
Tujuan pendidikan agama Islam secara
komprehensip adalah memebentuk kepribadian Islam. Islam sebagai agama merupakan
system kepercayaan dan system ritual yang esensinya mengandung berbagai muatan
moral yang perlu diaplikasikan dalam kehidupan umatnya. Sehingga seorang muslim
yang mengamalkan ajaran Islam disebut muslim kaffah adalah orang sudah mampu
mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari secara smpurna. Inilah
yang akan melahirkan akhlak mulia.
2.
Dasar Pendidikan
Agama Islam
Pendidikan agama Islam memiliki dasar pokok
wahyu dari Allah yang tertuang dalam Alquran dan Perilaku rasulullah yang
kemudian diistilahkan dengan syariat Islam. Dimana syariat Islam itu menjadi
dasar dan barometer (standar moral) bagi para pemeluknya sehingga mampu
melahirkan berbagai akhlak mulia atau karakter mulia.
Karakter mulia berarti individu memiliki
pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti
reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan
inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar,
berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati
janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia,
bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif,
disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis,
hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri,
produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib.
3.
Dasar Pendidikan
Karakter
Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat
yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan
kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif
sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).
Individu yang berkarakter baik atau unggul
adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan
YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional
pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai
dengan kesadaran,emosi dan motivasinya (perasaannya).
Pendidikan karakter adalah suatu sistem
penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen
pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the
deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character
development”. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku
pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu
sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan
atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas
atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan
ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan
karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam
menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.
Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D.
(2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut:
“character education is the deliberate effort
to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When
we think about the kind of character we want for our children, it is clear that
we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is
right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure
from without and temptation from within”. (pendidikan karakter adalah usaha
sengaja untuk membantu orang memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai
etika inti. Ketika kita berpikir tentang jenis karakter yang kitainginkan untuk
anak-anak kita, jelas bahwa kita ingin merekadapat menilai apa yang benar,
sangat peduli tentang apa yang benar, dan kemudian melakukan apa yang mereka
yakini sebagai benar, bahkan dalam menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari
dalam).
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan
karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi
karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini
mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau
menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait
lainnya.
F. Nilai-nilai Philosopi Pendidikan Agama Islam
dan Pendidikan Karakter
Menurut T. Ramli (2003), Pendidikan karakter
memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan
akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang
baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia
yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu
masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang
banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu,
hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah
pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya
bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.
Pendidikan karakter berpijak dari karakter
dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut)
yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan
karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai
karakter dasar tersebut.
Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai
karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam
dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli,
dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan
dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta
persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari:
dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab;
kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya
integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak
kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi
nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut
atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah
itu sendiri.
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian
dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan
grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand
design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan,
dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas
proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati
(Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development),
Olah Raga dan Kinestetik (Physical and
kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity
development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan
dengan mengacu pada grand design tersebut.
Pemaparan di atas menunjukan adanya
similaritas antara pendidikan agama Islam dengan pendidikan karakter. Hal ini ditunjukan
dengan dasar philofis yang sama yaitu karakter yang terbentuk semuanya
bersumber dari nilai-nilai universal termasuk di dalamnya adalah agama Islam.
Sehingga pendidikan karakter sesungguhnya merupakan implementasi lain terhadap
paradigma pendidikan agama Islam.
G. Proses Internalisasi Karakter Dalam PAI
1.
Materi PAI
Pada dasarnya materi PAI yang dikembangkan
dalam kurikulum sudah bermuatan karakter seperti :
a. Al-Qur’an, dalam materi ini anak akan lebih
menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya.
b. Aqidah, Dengan aqidah yang benar anak akan
semakin dewasa dalam pemikiran ilahiyahnya.
c. Akhlak, dengan materi ini nilai hubungan baik
anak dengan Tuhannya, sesama, diri sendiri dan makhluk lainnya akan tumbuh dan
berkembang.
d. Ibadah, dengan materi ini anak akan senantiasa
sadar akan kewajibannya sebagai makhluk yang harus beribadah terhadap
Khaliknya, sehingga menjadikan ibadah sebagai kebutuhan dalam hidupnya.
e. Sejarah, melalui materi ini anak akan lebih
meneladani tokoh-tokoh yang berkarakter baik.
2.
Metode Pembelajaran
PAI
Materi bermuatan karakter saja tidaklah cukup
untuk pembentukan karakter siswa, ketepatan memilih metode juga akan memberikan
pengaruh dalam proses pembentukan karakter.
Pada dasarnya semau metode pembelajaran dapat
bermuatan karakter ketika adanya keterpaduan dengan materi yang dismpaikan,
sehingga kreatifitas dan kecerdasan guru dalam menentukan metode pun sangat
dibutuhkan dalam hal ini.
Kita seringkali terikat oleh batasan waktu dan
ruang dalam pembentukan karakter siswa, banyak kegiatan-kegiatan tambahan di
luar kelas dan di luar jam pelajaran yang dapat membentuk karakter siswa
seperti pembiasaan salam, membaca yasin dan asma’ul husna bersama, kantin
kejujuran, sholat duha dan dzuhur berjamaah dll yang kesemuanya bernuansa
agamis yang sarat denga nilai tentunya.
DARFAR PUSTAKA
§ Ahmad Tafsir., Ilmu Pendidikan Dalam
Perspektif Islam., PT. Remaja Rosdakarya., Bandung, 2001
§ Ahmad Tafsir,. 2002. Metodologi Pengajaran
Agama Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
§ Kemdiknas Balitbang Puskur . 2010,
Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa, Pedoman Sekolah, Jakarta .
§ Kemendiknas. 2010. Pembinaan Pendidikan
Karakter di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta
§ Darajat, Zakiah,. 1996. Metodologi Pengajaran
Agama Islam, Jakarta : Bumi Aksara
ConversionConversion EmoticonEmoticon